Tuberkulosis paru (TBC Paru) : Pengertian. Diagnosis dan Pengobatannya

TBC paruTuberkulosis paru (TBC Paru) merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis yang menular. Kuman tersebut sebagian besar menyerang paru tapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya.

Kuman mycobacterium tuberculosis berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pewarnan. Oleh karena itu disebut juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman Tuberkulosis cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.

Penderita TBC Paru diketahui setelah adanya diagnosis awal adalah adanya batuk lebih dari 3 minggu  setelah dicurigai kontak dengan penderita  Tuberkulosis. Namun diagonis itu hanya diagnosis awal yang dapat ditegakkan dengan menggunakan berbagai pemeriksaan yaitu: Gejala klinis, pemeriksaan fisik, tes tuberkulin, radiology dan pemeriksaan sputum.

Gambaran Klinis Penyakit Tuberkulosis Paru.

Gambaran Klinis pada Tuberkulosis paru sangat bervariasi. Keluhan yang sering muncul adalah:

  • Batuk

Gejala ini paling banyak dijumpai dan sering ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronchus untuk membuang produk-produk radang keluar. Batuk terjadi setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru-paru setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan bermula. 

Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradagan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Batuk yang terus menerus dan berdahak selama tiga minggu atau lebih perlu diwaspadai penderita tersangka Tuberkulosis.

  • Demam

Demam biasanya subfibril menyerupai demam influenza. Keadaan ini dipengaruhi oleh daya tahan tubuh dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk. Panas badan dapat mencapai 40-41 0C.

  • Sesak Napas

Pada penyakit yang masih ringan belum dirasakan sesak napas. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru.

Nyeri Dada

Gejala ini jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.

  • Malaise

Gejala malaise yang sering ditemukan  berupa anaroksia, penurunan berat badan, sakit kepala, nyeri otot dan keringat malam.

Jika menderita gejala diatas  batuk yang tidak sembuh-sembuh selama 3 minggu, demam, berkeringat dingin dimalam hari serta cepat lelah dan diperkuat dengan riwayat kontak dengan seseorang penderita tuberkulosis. Sebaiknya cepat memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan dan perlu dilakukan pemeriksaan sputum secara mikroskopik langsung. Pada kondisi kronis Tuberkulosis mempunyai gejala batuk darah disertai sakit di dada.

Pemeriksaan Fisik

Kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat tergantung dari derajat berat ringannya penyakit, tidak jarang keadaan umum penderita baik sekali dan tidak dijumpai kelainan pada pemeriksaan fisik. Pada penderita yang sudah parah biasanya keluhan buruk, kurus sekali dan dapat dijumpai kelainan pada pemeriksaan fisik paru. Pada pemeriksaan fisik harus kita perhatikan kelainan yang sering dijumpai, pertama adalah pembesaran kelenjar dileher, kedua kita perhatikan tempat predileksi Tuberkulosis yaitu daerah apek dan segmen apical lobus bawah yang kira-kira letaknya dipertengahan punggung

Tes Tuberkulin

Tes kulit dapat mengidentifikasiseseorang yang telah terinfeksi pada suatu saat oleh Mycobacterium tuberculosis, namun tidak dapat membedakan antara penyakit yang sedang berlangsung dengan keadaan pasca infeksi.   Suatu hasil tes yang positif tidak selalu diikuti dengan penyakit, demikian juga dengan hasil tes negatif tidak selalu menyingkirkan Tuberculosis. Tes tuberkulin ini mungkin hanya berguna dalam menentukan diagnosis daripada penderita yang dahaknya negatif (terutama anak-anak yang mempunyai kontak dengan seseorang penderita Tuberkulosis yang menular) (Suparman dan Waspadji, 1990).

Uji tuberkulin dilakukan dengan cara mantoux (Penyuntikan intra kutan) dengan spuit tuberkulin 1 cc, pembacaan dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan. Jika uji tuberkulin meragukan dilakukan ulang (Suparman dan Waspadji, 1990).

Pemeriksaan Radiologi

Pada saat ini pemeriksaan radiology dada merupakan cara yang praktis untuk mendiagnosis tuberculosis pada penderita suspek dengan hasil pemerikasaan sputum negatif. Untuk mendiagnosis pasti tuberculosis berdasarkan pada pemeriksaan radiologis, hasilnya harus dibaca oleh dokter yang telah berpengalaman.

Pemeriksaan Sputum

Pemeriksaan sputum secara mikroskopik merupakan pemeriksaan yang paling     sederhana, mudah, dan dapat dilaksanakan di puskesmas dengan pemeriksaan yang sangat spesifik dan cukup sensitif. Tetapi tidak mudah mendapatkan sputum terutama penderita yang tidak batuk produktif.

Mycobacterium tuberkulosis berbentuk batang mempunyai sifat yaitu tahan      terhadap penghilangan warna dengan asam dan alkohol oleh karena itu disebut basil tahan asam (BTA). Untuk mengurangi kesulitan menemukan BTA, maka kualitas dan kuantitas sputum harus baik.

Sputum yang baik harus berjumlah 3-5 ml, kental, berwarna kuning kehijau-hijauan dan bukan ludah. Sputum dikumpulkan dalam 2 hari berurutan yaitu sputum sewaktu, pagi, sewaktu. Pada hari pertama waktu penderita datang dengan keluhan suspek tuberkulosis, penderita mengumpulkan sputum sebagai spesimen pertama berupa sputum sewaktu. Kemudian penderita diberi pot sputum yang diisi pada esok harinya setelah bangun tidur sebagai spesimen kedua berupa dahak pagi. Kemudian hari kedua saat menyerahkan sputum pagi, penderita mengumpulkan sputum sebagai spesimen ketiga berupa sputum sewaktu – waktu.

Pengobatan Tuberkulosis 

Pengobatan Tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan dan menurunkan penularan. Pengobatan akan diberikan setelah dignosis ditegakkan. Obat sintentis yang diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan. Apabila panduan obat digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka waktu pengobatan), kuman Tuberkulosis akan berkembang menjadi kuman kebal obat pada resisten. Untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin ketaatan penderita minum obat, pengobatan perlu dilakukan dengan pengawasan langsung menelan obat untuk jangka pendek (DOTS = Directly  Observed Treatment Short-Cource). Pengobatan Tuberkulosis diberikan dalam 2 tahap  yaitu: tahap intensif dan lanjutan.

Pengobatan Secara Herbal

Pengobatan herbal dapat dipilihnsebagai pengobatan alternatif yang lebih aman dan tanpa efek samping, juga dengan tujuan sama untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan dan menurunkan penularan.

Herbal dari tanaman yang bisa mengatasi persoalan TBC Paru dari  3 herbal yang dikonsumsi bareng secara teratur yaitu bawang lanang, adas dan kencur. Lihat paket pengobatan klik disini.